Kelas Menulis II @Kebun Belimbing Ringinrejo, Bojonegoro (Minggu, 29 Januari 2012)
hohoo.... biasanya kalau minggu pagi slese nyuci baju Q langsung sarapan n liat tv ma adek, tapi minggu kmaren abiz nyuci sarapan, mandi terus siap2... "emang mw kemana...??" biasa lah orang sok sibuk hahaaa... mau ikut kelas menulis gitu... kebetulan minggu ke dua itu temanya jalan2... asyik kan...?? it's okey... abiz siap2... tiba2 ada suara alarm motor "thhiit..thiittt..." *suara khas si baja merah milik cacing... dan ternyata maz Rifa'i jemput saya... hohoo... kok repot2 pake acara di jemput segala... ^_^ *Trimakasih lho...
Okey.. Jadi, Kelas “Menulis Kreatif” ala Blogger Bojonegoro yang
bekerja sama dengan Sindikat Baca, Beberapa penulis
Novel dan wartawan di Bojonegoro mengadakan Study Tour di Kebun Belimbing
Ringinrejo, Bojonegoro. Disana selain kita bisa menikmati sejuknya suasana
kebun belimbing sepanjang pesisir bengawan, kita juga bisa belajar banyak hal.
Mulai dari cara mengOkulasi pohon belimbing, merawat kebun belimbing, memanen
belimbing, tips biar buahnya manis dan besar, dan yang terpenting adalah kita
juga bisa tau sejarah yang tersimpan dibalik Kebun Belimbing yang Super enak
itu.
Okey… perjalanan dimulai dari Basecampnya
Blogger Bojonegoro Jl. Gajah Mada No.05 Bojonegoro. Tepat pukul 9.00 WIB Pak
ketua (Dedekxz), Ariv, Doni, Aylla n Lely bergegas meluncur ke Sanggar Guna Jl.
Ahmad Yani (Komplek Gudang Garam) Bojonegoro. Gak butuh waktu lama kita sampai
di Sanggar Guna, namun apa yang terlihat…???
sepiiiii… banget oee… yg terlihat Cuma 2 cewek dan 1 cowok (Mytha, Emi n Fadli)
yg duduk2 di depan pagar… “nah looe…???
Ada apakah Gerangan…??”
hahaaaa… ternyata kita telat… rombongan udah pada berangkat 5 menitan yg lalu dengan
2 mini bus, “Aduch… gmana sih kok pake
acara ketinggalan segala…” it’s
Okey.. karena kita juga udah tau lokasinya kita meluncur dech bermotor ria. “Brummmmm..bruummm….
Cekiiitttzzzz… nyampek dech… kok cepet nyampeknya?? ya iya lah orang lokasinya di barat kota aja… gak
terlalu jauh”.
Penuh Keakraban |
Alhamdulillah banget pas kita sampai lokasi
ternyata Rombongan yg lain juga baru nyampek.
Hemm… sejauh mata memandang yg ada Cuma warna
Hijau, sejuk banget. Jadi betah berlama-lama di kebun itu apa lagi kita di
suguhi Belimbing gratis oleh Pak Suwoto selaku Kepala Desa sekaligus pemilik
kebun Belimbing yg kita singggahi untuk belajar. “Baik banget ya…?? Maksih pak blimbingnya enak Buangeeett…”
Okey.. pelajaranpun dimulai dengan motto “Semangat dan Gembira” klik… (suara
gesekan jari tengan dan jempol)
“Untuk
mendeskripsikan sesuatu kita harus kenal dan paham dengan objek tersebut. Dan
agar tulisan lebih berbobot kita harus berani bertanya, mencari informasi
sebanyak mungkin dan memahaminya.” Semua peserta kelas menulispun melempar
pertanyaan dan pasang muka serius…
*Dan inilah yang tertangkap>>
Semangat dan Gembira |
Mulai dari Pak Suwoto yang memperkenalkan diri, Jadi Pak Suwoto adalah Kepala Desa
Ds.Ringinrejo, Sosok yang bersahaja, murah senyum dan ulet itu terlahir dari
keluarga yang sederhana, beliau lulusan
dari Universitas Muhammadiyah Malang. Setelah lulus kebetulan di Desa ada
lowongan perangkat desa, dan Alhamdulillah Pak Suwoto terpilih jadi Kepala Desa
sampai saat ini. Sebenarnya dunia kuliahnya nggak searah dengan dunia yang
digelutinya sekarang, tapi dengan penuh wibawa Pak Suwoto berbagi motivasi pada
kita “nggak ada yang nggak mungkin di
dunia ini, dengan penuh semangat, yakin, senang dan tanpa putus asa, Insya
Allah kita bisa berhasil di bidang apapun.”
Cerita
berlanjut ke Sejarah Kebun Belimbing itu, Jadi dulu Mbah Wo Sunyoto (Kakek Pak
Suwoto) dan Mbah Nur saat perjalanan di Desa Siwalan mereka membeli buah
belimbing, bijinya ditanam dirumah dan di budidayakan. Pada tahun 1884 mereka
menanam pohon Belimbing pertama kali di Kebun ini dan mereka yakin pohon
belimbing yang ditanam akan tumbuh subur dan berkembang biak dengan baik,
bahkan mereka juga punya impian ingin naik Haji dari hasil pemasaran belimbing
tersebut (sampai sekarang masih ada lho pohon induknya, dan alhmdulillah selama
ini nggak ada pohon yang mati, paling2 sengaja dimatikan karena jarak terlalu
rapat). Awalnya sih banyak tetangga yang pikirannya gk sejalan dengan mereka,
orang2 gak yakin kalo Kebun Belimbing mereka akan berkembang seperti saat ini.
Tapi ya itu tadi dengan keyakinan dan kerja keras Alhamdulillah usaha kebun
belimbingnya sukses dan mbah Nur skarang udah terdaftar jadi calon jama’ah Haji
tapi sayang mbah Wo Sunyoto udah meninggal. “Innalillahi
wa inna’ilaihi roji’un...” dan sekarang pak Suwoto lah yang merawat Kebun
Belimbing itu.
Canda Tawa kebersamaan |
Kebun
Belimbing
dengan luas ± 19.3 hektar dikelola oleh 80 orang. Kepemilikan pohon belimbing
masing2 orangpun berbeda, pak Suwoto sendiri memiliki pohon belimbing sekitar
500 pohon. Dengan adanya kebun Belimbing tersebut sudah menyerap ± 90% pemuda
yang ada di Desa Ringinrejo. Gaji merekapun lumayan yaitu sekitar
Rp.700.000,-/bulan +makan dan rokok, kalau tanpa makan dan rokok bisa mencapai
Rp. 1.200.000,- /bulan. “nek ngunuw aku
tak metu teko radar mergawe neng kene ae nuw,hahaa…” Gurau Pak Anas.
(suasanapun makin menyatu para peserta makin nyaman di kebun itu menyimak
kalimat demi kalimat dari Pak Suwoto)
Perawatan
kebun belimbing itupun nggak terlalu sulit. Cuma harus memperhatikan dehidrasi
yang tepat dan penyiraman yang cukup saat musim kemarau. Jarak antar pohon
harus 4 m, jangan terlalu renggang atau terlalu rapat. Pemupukan yang cukup
dengan pupuk organik, selain sebagai pembenah tanah hal ini juga untuk menjaga
kualitas buah belimbing yang super enak dan gEdE.
Pembuatan pupuk organikpun dengan cara yang
sederhana… (barang kali ada yang mau coba bikin) Begini caranya… Pertama
kalian harus bikin larutan bakteri lactobacillus (yg biasanya juga terdapat
pada Yakult) yaitu dengan mencampurkan blenderan dari 5 buah kulit pisang yang
dicampur dengan air gula ( 1 liter air + 1 ons gula) dan didiamkan sampai 4
hari. Jika berhasil maka aromanya harum, tapi kalau gagal/bakteri lactobacillus
mati baunya busuk. Setelah pembuatan
bakteri lactobacillus sukses selanjutnya adalah Pembuatan Pupuk Organik yaitu dengan cara mencampur 1 gelas larutan
bakteri lactobacillus dengan 5 liter air kemudian disiramkan ke 1 kw kotoran
hewan (kotoran yang baru). Jadi dech pupuk organiknya…
Biasanya sih pak Suwoto memakai kotoran
kambing, jadi selain ngurus kebun belimbing itu pak Suwoto juga beternak
kambing, ya lumayan lah buah2 yang rontok/sengaja di rontokkan untung
penjarangan buah agar buah bisa berukuran besar selain dimanfaatkan untuk pupuk
kompos beliau manfaatin juga buah2 itu untuk makanan kambing, juga rumput2 di
sekitar kebun. Jadi ada simbiosis muatualisme gtu dech… ^_^
Cara Okulasi |
Setelah bicara soal sejarah dan perawatannya
Pak Suwoto mengajak kita semua ke arah barat ±10 m dari tempat kita ngobrol
tadi. Disana Pak Suwoto menuntukkan ke kita pohon induk yang masih sangat subur
dengan tinggi sekitar 5 m, pohon itu sengaja di biarkan selain untuk menjaga
sejarah pohon, entres (bakal tunas) digunakan untuk proses Okulasi. Agar hasil
buah belimbing tetap sama. Pak Suwoto juga berbagi cara Okulasi yang benar. Begini caranya: pertama kita pilih ranting
pohon I yg kuat dan ada entresnya, kupas entres pohon I dengan ukuran 3x5cm,
lalu kita ambil entres dari pohon II dengan ukuran yg sama. Setelah itu kita
tempel entres dari pohon II pada pohon I kemudian di lilit sengan plastik
(sedang2 saja jangan terlalu kencang juga jangan terlalu kendor), kasih celah
tepat pada mata entres agar tidak menggaggu pertumbuhan entres tersebut. Potong
ranting yang di Okulasi sekitar 5 cm di atas tempelan kemudian tutup dengan
plastik untuk menjaga kelembaban.
Kalau soal Penghasilan biasanya 1 pohon tiap 1 kali panen menghasilkan 70 kg.
1 kg dihargai dengan Rp.5.000,- dan dalam 1 tahun biasanya 3 kali panen raya.
“Terus
penghasilannya tiap tahun berapa ea…??” Penghasilan 1 pohon/tahun = 70 kg x Rp.
5.000,- x 3 kali panen = Rp. 1.050.000,- Itu
baru 1 pohon, kalau 500 pohon berarti berapa hayoo…??? Wuuuiicchhh…
Alhamdulillah… itung sendiri yeee… ^_*
Mengenai pemasaran
dan permintaan konsumen biasanya belimbing Ringinrejo dipasarkan ke Tuban
(lebih suka buah belimbing yang tua), Lamongan (lebih suka buah belimbing yang
sedang/nggak terlalu tua), Semarang (lebih suka buah belimbing yang agak muda),
dan beberapa kota sekitar Bojonegoro.
Beberapa waktu lalu Belimbing Ringinrejo abiz
di Lab kan dan mendapat pengakuan dari Dirjen
Ketahanan Pangan, bahwa Belimbing Ringinrejo 100% tidak mengandung bahan
kimia di dalamnya. Dan untuk mempertahankan budi daya Belimbing Ringinrejo Pak
Suwoto membuat PerDes/Peraturan Desa
dimana tiap rumah diwajibkan menanam pohon belimbing minimal 2 pohon.
Fotografer Bojonegoro |
Setelah ngobrol2 Pak Anas pun kasih waktu ke
semua peserta untuk menyebar mengamati apa saja yang ingin di amati, bertanya
ke siapapun penduduk yang ada di kebun itu. Semuapun berpencar, ada yg serius
coret2 di buku, pelototin pohon belimbing, ngobrol2 dengan penduduk setempat,
ada juga yang berphoto ria karena kebetulan Pak Prawoto juga membawa teman2
Fotografer, dan yang pasti Belanja buah belimbing buat Oleh-oleh, termasuk pak
Anas yang memborong 40 kg Belimbing. “Aseeekkk…
seru kan…??” acara pun selesai dan rombonganpun pulang, eitszzz…!! tapi tidak buat Blogger
Bojonegoro.
Setelah dari Kebun Belimbing kita sempatin
berkunjung ke Proyek Bendungan Gerak
Bengawan Solo di Desa Ringinrejo. Jembatan panjang membentang diatas
Bengawan Solo yang bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar katanya hanya untuk kendaraan
roda dua karena lebar jembatan hanya 4,2m tampak gagah dengan warna khas putih
semen yang kering dan beberapa bidang penutup pintu air bendungan dengan warna
biru mencolok menambah kemegahan bangunan itu. Bendung gerak Bengawan
Solo itu memiliki luas bentang 504 meter dan tujuh buah pintu yang
masing-masing lebarnya 17,5 meter dengan tipe "radial gate". Selain
itu, juga dilengkapi dengan dua pintu pengatur debit dengan lebar 17,5 meter. Bangunan
sepanjang 1.841,752 meter itu mampu menampung air hingga 13 juta meter kubik
dari daerah tangkapan air seluas 12,467 kilometer persegi. Keberadaan bendung
gerak tersebut untuk mencukupi kebutuhan air irigasi pertanian lewat
pompanisasi dengan debit 5.850 liter/detik di Kabupaten Blora seluas 665
hektare dan 4.949 hektare di Kabupaten Bojonegoro. Bendungan
yg kabarnya menelan dana Rp. 360 miliar itu di targetkan rampung sebelum 22
maret 2012 “ntar akhir maret kita kesana
yaaa…” meski panas banget tapi tetep terasa sejuk karena karena semilir
angin bengawan siang itu. 30menitan menikmati bangunan itu kita lalu pulang…
oke perjalanan Kelas menulis II selesai, sampai jumpa di kelas menulis
berikutnya… ^_^